Desa Seguring ( Salah Satu Desa Lama ) Dikabupaten Rejang Lebong

Ujung Desa Seguring
Desa Seguring yang berada di wilayah kecamatan Curup Utara ini merupakan desa yang mayoritas penduduknya adalah suku rejang,dan masih memegang kebudayaan rejang dengan kuat.
rumah -rumah lama di Desa Seguring
didesa seguring masih banyak bangunan bangunan lama serta ada beberapa situs purbakala diantaranya buteu Libea dan Buteu Agung.
Areal Persawahan di Desa Seguring Menjemur Padi
Penduduk desa seguring bermata pencaharian sebagai petani mereka berkebun dan bersawah,dan sebagian sebagai pencari batu di sepanjang sungai musi yang mengalir di desa seguring.
Penduduk mencari batu di sungai musi di Desa Seguring
Jembatan gantung yang membentang di atas sungai musi yang menghubungkan desa dengan daerah perkebunan masyarakat
Mbien Putung ( Membawa kayu bakar dari kebun ke rumah )

Kerajinan Suku Rejang ( Lebeu / Tempat Menyimpan Beras )

Lebeu adalah peralatan tradisonal suku rejang yang di gunakan untuk menyimpan beras.
alat ini terbuat dari anyaman bambu mirip dengan bokoa tapi lebeu ini memiliki ukuran yang lebih besar dari bokoa ( bakul ) dan agak tinggi serta memiliki leher dan tutup.
namun sekarang selain dibuat untuk menyimpan beras, dibuat juga lebeu-lebeu yang berukuran kecil-kecil yang di gunakan sebagai hiasan.
setelah anyaman bambu tadi menjadi bentuk lebeu,lalu lebeu di warnai dengan pewarna yang di sebut dengan Ubea. dengan cara mengoles ubea ke seluruh permukaan lebeu tadi dan lalu di jemur,setelah kering kembali di oles dengan Ubea berulang ulang sehingga warna merah benar-benar menempel di lebeu tersebut.
Ubea yaitu pewarna yang terbuat dari kulit kayu pohon gunjing yang telah di haluskan dan dicampur dengan air.
Photo : Pembuat Lebeu dari desa tanjung dalam

source : http://curupkami.blogspot.com


Pantun Laluin ( Seni Berpantun Suku Rejang )

ini adalah salah satu seni pantun suku rejang, yang berhasil di rekam oleh Prof. Margaret J. Kartomi yang di rekam di Lubuk Banyau tahun 1983 dari Monash University, Australia. Jika didengar bahasa yang di pakai adalah bahasa rejang bagian utara, sama dengan bahasa rejang yang ada di lebong.

seni berpantun ini memakai alat musik tiup yang di buat dari batang padi yang dikenal dengan nama Bet Bet dan alat musik pukul sejenis rebana besar.

pantun ini jika merupakan pantun muda mudi,dimana pantun ini biasanya dilakukan pada malam hari ketika para bujang mendatangi para gadis.

jika didengar dalam pantun tersebut terlihat jika kata-kata pantun itu saling bersahutan ( berbalas )


namun sayang sebagian sair dari pantun tersebut terdengar tidak begitu jelas

Syair Pantun Laluin *


Kunai daet umak belando**

Dalen tebing nak dipoa unen

Dio Cacet Nasieb yo malang

Ibarat guting becabang duwai

******

men kunamen repeye epet

lak kumacang kedulo uai

men kunamen dalen moi lenget

niyok atoi cemito cigai

******

anak kan seniyeb bae

lok te masen silai ku cigai

anok etun kemeliak bae

lok masen caci ku cigai

******

pun salok nak dipoa unen

...........keme nak iding tebing

ko calok keme bi namen

betemau mbeak calok miling

******

pun salok nak dipoa unen

...........keme nak iding tebing

udi calok keme bi namen

keme bi coa de banding

******

kulak mendoi mendoi ba e di

bio ne dees ekan ne daw

lok ijai ijai ba di

tun ne baes saret edaw

******

alang kedaw putung telunguk

naeb si elai bi etun tebang

lang kedaw etun telunguk

baes kilai si anok gaang

******

ikan sepat berenang-renang

di tepian dilumbung padi

siang.................malam terkenang

Waktu tiduk nampak di mimpi

******

Bi an bi an temanem....

Bi an bi an temanen su ie

Bi an bi an ite bi bundak

Memen sebilai ite bece ie

******

Ket :
* Laluin : Prof. Margaret J. Kartomi menulis dalam keterangannya dengan kata Laluin,namun dalam bahasa rejang mungkin lak luyen yang di maksud.
** kata-kata tersebut tidak terdengar begitu jelas mungkin

Lagu Iringan Jang besuluak (Kesenian lisan berpantun Suku Rejang)



Jang besuluak, terjemahannya rejang berobor, artinya orang rejang pada malam hari menggunakan penerangan dengan obor, atau lampu yang memakai sumbuh atau lampu templok. (kira kira begitu maknanya).
Bujang gadis rejang biasanya bercengkerama pada malam hari setelah selesai menyelesaikan pekerjaan sehari hari, seperti dari ladang atau menolong orang tua. Jadi hanya selepas magrib (malam) bisa bertemu dan berkenalan satu sama lain. Di saat itu mereka saling berbalas pantun atau bernyanyi, musik iringannya seperti rekaman di atas. Sangat sederhana,alat musiknya hanya terdiri dari satu rebana, dan satu serunai. Serunai ini hanya sebuah pipa kecil yang di tiup, yang di buat dari batang padi. Orang Rejang menyebutnya dengan nama bet bet. (Serunai padi).

Kesenian ini susah sekali di temui saat ini, karena terlindas dengan kemajuan jaman.
Rekaman tersebut hasil riset Prof. Margaret J. Kartomi yang di rekam di Lubuk Banyau tahun 1983 dari Monash University, Australia.

Thanks to my author curup kami to edit the document.

source :http://rejang-lebong.blogspot.com

Lema Dance From From Lebong Regency

This is the new creation dance from Rejang people that performance and presentation from part of Rejang Land in Lebong Regency. In Lema Dance you can see the traditional daily traditional equipment such as krotong, tudung kuwang, etc. The dance decription about how Rejang People make lemea. Lema or lemea one of the traditional food from Rejang people.).



The dance performance at Bengkulu Cultural Park 2007 and upload by Mr.Agus Setiyanto & Fahdel`Site.
Lest enjoy the dance..........


source : http://rejang-lebong.blogspot.com

http://http://tunkeme.multiply.com

Lagu-lagu Tradisonal Suku Rejang

Ini adalah lagu-lagu/musik tradisional suku rejang, lagu lagu ini biasanya dijadikan sebagai lagu pengiring dalam musik tarian kejei.




Lageu Jang Larat ( Jang Mlarat )/Lagu Rejang Melarat



Lageu Burung Tebo Dawen / Lagu Burung Bukit Daun



Lageu Percang Naik Gunung


Lageu Tebeak Cino Bitung / Lagu Cara Cina Berhitung

source :by Margaret Kartomi Jan. 1981 Rejang Lebong.Monash University

Sambei anak kelawan ganai

Dalam tradisi suku rejang dikenal dengan nama nyambie, nyambie ini dilakukan saat berkejei ( Tari kejei) ketika bujang dan gadis menari kejei dengan diiringi musik kejei, tiba-tiba musik kejei berhenti disaat itulah dilakukan nyambie antara bujang dan gadis. lirik sambei anak kelawan ganai
Eeeeeeeeeeeeeeeeeee langEeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Eee..pata tangai

Eee lang pengeran bingin

Eee pata melopon

Ee gedung siri

Eeeee terbitlah ni dari mojopahit

eeeejak situ temetu asal sambai

eeejak sane terbit teburung asal gannai

makin ade bejolok

eeeee Anak sambai

eee anak sambai kelawan gannai

anak kepuk kelawan tari

ee anak adat kelawan hukum

anak minyak kelawan buri

anak bedak kelawan pupur

anak gadis kelawan bujang

eeeeeee anak bujang 40

uuus uku anak gadis 16 talen

anak bujan 40 suku rindu

hergaaan gadis 16 teburung talen dendam

eeeeaaaiiii.....ayam besuk rambai

auuu remas name ceret tengah gelangan

adek bangsuku ajar temas

ku anak tengah gelangan

eebutang nandakutang

piutang deregan esanan gawen

eee anak bujang kune tun nian

masang sifat lawan

ee petali sifat benar teburung

betali lurus

aeeee putus lah bedeting betali

auuu regung sawi biring terbang luput

ingaklah nergiin name kayu

ati bikin tunjuk beujud

eellaa tabik senuli

bekate selabarlah ringit sepanggung

setabiklah pesirah ulu lurah

setabiklah pegawai panggung tengah

setabiklah mamak nunggu dusun

setabiklah bibik nunggu rumah

ela betanding nyebrang

ulu laut kumbang lah menati atas gunung

mandang angin ade betiup

mandang embun ade belabuh

mandang angin ade merindu

mandang mbun ade bedendam

eee

dendam dimane teburung sampai lagi

dalam bahasa sambei ( nyambei ) dibagi menjadi tiga bagian pertama berisi puja dan puji
adapun terbitnya asal sambai kelawan gandai adalah terbit dari mojopahit

jak situ temetu asal sambai jak sane terbit asal gandai

makin ade anak sambai kelawan ganai

anak kepuk kelawan tari

anak gadis kelawan bujang

anak bedak kelawan pupur

anak adat kelawan hukum

anak minyak kelawan buri

masang sifat lawan petali

sifat benar betali lurus

kedua merupakan bagian meminta dan memberi maaf kepada yang menonton
stabik nuli bekate ( maaf saya berberbicara ) selabar ringit sepanggung ( semua yang barada di panggung ) setabik pasirah ulu lurah ( setabik ke pada pesirah / kapala marga ) walaupun mamak nunggu dusun atau bibik menunggu rumah itu merupakan tempat bermaaf semua
dan bagian ketiga berupa pantun antara bujang dan gadis
katanya sama2 menyeberang laut kumbang menanti di atas gunung memandang angin ada betiup memandang embun ada belabuh memandang angin ada merindu memandang mbun ada bedendam demdam dimana sampai lagi

ketika bujang mengucapkan pantun tersebut maka si gadis akan menyambutnya dengan sambei pengela.



dan berikut adalah penjelasan tentang sambei tersebut



source : rekaman sambei oleh Kartomi Margaret J Kartomi. Januari 1981 Curup,Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu,Monash University


Burung Lating ( Musik Pengiring Tari Kejei )

Dalam tari kejei penari di iringi oleh alunan musik gung klintang,musik pengeiring atau lagu pengiring tari kejei ada beberapa macam diantarannya adalah lagu Burung Lating

Lagu Burung Lating

Lagu Burung Lating

nama-nama lagu pengiring tari kejei

Lagu (Pantun Melayu Rejang ) Cerai Kasih dari desa Lubuk Banyau, Lais.

Lais adalah salah satu daerah pusat kebudayaan rejang di masa lalu. Banyak bukti kebudayaan Rejang di ambil Belanda dan Inggris dari daerah Lais. Kebudayaan Rejang itu kini jadi bukti bahwa Lais merupakan tempat komunitas suku Rejang sejak dahulu, meski benda benda budayanya kini berada di museum-museum di Eropa

Seni berpantun berikut adalah pengaruh melayu yang masuk ke Tanah Rejang, beberapa pantun yang di nyanyikan dengan irama yang sama juga di nyanyikan dalam bahasa asli Rejang Pesisir. Berikut Lagu dan Syair Pantun berjudul Cerai Kasih dalam bahasa Melayu Rejang yang di buat oleh Margareth J. Kartomi dari Monash University, Australia tahun 1983, di desa Lubuk Bayau, Lais. Seni berpantun ini adalah salah satu bentuk sastra lisan daerah Rejang yang hampir musnah karena generasi sekarang malu menggunakannya, karena di angap tidak sesuai zamannya. It so bad brooooo............!

Penasaran mendengar orang desa asli Rejang berpantun dalam bahasa Melayu Rejang dengan penuh kepolosan mendendangkannya dengan di iringi serunai dan suara sejenis gendang (rabana besar), silakan dengar pantunnya secara online di bawah ini dan ikuti teksnya, di jamin anda akan terseyum simpul :).




Cerai kasih selindang biru, sayang
Cerai sehari rasa seminggu

Baik - baik menanam tebu, sayang
Tebu ditanam bulan puasa
Baik - baik mencari ilmu, sayang
Ilmu menebeng api neraka

Lamo - lamo gajah di rimbo, sayang
Rebung sepucuk tepijak gajah
Lamo - lamo tidak bersuo, sayang
Dendam berpupuk sayang bertambah

Anak ayam berciap - ciap, sayang
Masang ku puluet sembilan lidi
Mau terebang tidak bersayap, sayang
Mau berjalan tidak berkaki

Kutahu si kota London, sayang
Kota London kabarnya rami
Minta maaf sekian penonton, sayang
Kami ini tegak menyanyi

Kalu kakak menjahit kudung, sayang
aku menjahit pasangan baju
Kalulah kakak menjadi burung sayang
Aku menjadi `la ranting kayu

Rambut apa rambut ku ini, sayang
Rambut keriting kurangan minyak
Idup apa idupku ini, sayang
Idup merusing si adek sanak

Kalu ada jarum ku patah sayang
Janganlah simpan di dalam peti
Kalulah ada pantunku salah, sayang
Janganlah simpan dalam hati

Menulis di mija tulis, sayang
Mija tulis berbunga merah
Menulis sambil menangis sayang
Dawat bercampur di air mata

Source : Rejang-lebong.blogspot.com






ragam hias pada tenunan rejang

Berikut merupakan nama, gambar, dan makna (bila saya mendapatkannya) untuk kelompok ragam hias pada tenunan rejang yang berhasil saya dapatkan :

  • Cebung lenggong
    cebung-lenggong.jpg
  • Iliak bintang
    iliak-bintang.jpg
  • Lekau betatau
    lekau-betatau.jpg
  • Mata punai
    matai-panai.jpg
  • Tebea pinang uar, tebaran pinang muda
    >tabea-pinang-uar.jpg
  • Semut beleet, semut belarit
    semut-beleet.jpg
  • Tanjak berekek
    rangkaian tidak terputus, ragam hias ini juga dipakai pada rumah adat suku bangsa rejang (Umeak Potong Jang)
    tanjak-berekek.jpg
  • Tombak magelung
    tombak bolak-balik
    tombak-magelung.jpg
  • Kembang delapan
    keduniawian, keramah-tamahan dan kebahagiaan. Ragam hias ini juga dipakai pada rumah adat suku bangsa rejang (Umeak Potong Jang)
    kembang-delapan.jpg
  • Cerbong kewet
    rangkaian tidak terputus, ragam hias ini juga dipakai pada rumah adat suku bangsa rejang (Umeak Potong Jang)
    cerbong kewet
  • Buah-buah beluluk
    buah2-beluluk.jpg
  • Pengubung keluang
    pengubung-keluang.jpg

Selain itu, terdapat beberapa jenis ragam hias lain yang belum saya ketahui bentuknya, ragam hias ini terdapat pada ukiran pada rumah adat rejang, dan rumah adat Bengkulu di anjungan TMII. Ragam hias tersebut antara lain :

  1. Kacang keliling (flora)
    rangkaian tidak terputus
  2. Sisit nanas (flora)
    rangkaian tidak terputus
  3. Ular melilit akar (fauna)
    kedatangan para tamu terlihat dan menyerah. Biasanya ragam hias ini ditempatkan pada tiang beranda dan ruang tengah
  4. Sekea begatung (fauna)
    kedatangan para tamu terlihat dan menyerah. Biasanya ragam hias ini ditempatkan pada tiang beranda dan ruang tengah
  5. Seliping mas (fauna)
    kedatangan para tamu terlihat dan menyerah. Biasanya ragam hias ini ditempatkan pada tiang beranda dan ruang tengah
  6. Awan-awan (alam)
    memiliki makna perhiasan dan keindahan, ditempatkan pada ujung bawah atap
  7. Bintang bersudut 5 & 6 dalam lingkaran (alam)
    bermakna kehidupan dan akherat akan bercahaya bila beriman (ukiran rumah adat Bengkulu di anjungan TMII)
  8. Sidingin berbentuk hati
    memiliki makna : bagaimanapun panasnya hidup ini harus dihadapi dengan hati dingin (ukiran rumah adat Bengkulu di anjungan TMII).
  9. Bunga matahari
    melambangkan matahari yang menyinari seisi alam bagi kehidupan. Terdapat pada bagian atas pintu dan jendela


Source :prestylarasati.wordpress.com/2008/03/20/

Phœnician Characters in Sumatra

IN a short communication to the Anthropological Institute in December last (NATURE, vol. xi. p. 199), Phœnician characters were stated by me to be still in use in South Sumatra. As many of your readers may be glad to have more information on the subject, I write to say that the district above alluded to includes Rejang, Lemba, and Passammab, between the second and fifth parallels of south latitude. Several manuscripts, on bamboo, from this region are preserved in the library of the India Office ; and a Rejang alphabet is given by Marsden in his “History of Sumatra,” third edition. Some of his characters, however, appear to have been incorrectly copied. About half the Rejang letters are admitted by all the Oriental scholars to whom I have shown them to be Phoenician of the common type; others being similar to forms found in Spain and other Phoenician colonies. Most of the letters are reversed, a peculiarity which is explained by the fact that the Rejang writing, according to Marsden, is read from left to right, contrary to the practice of the Malays generally. The matter is of great interest, and, it is to be hoped, will be investigated by Phoenician scholars.






Source :http://www.nature.com/nature/journal/v11/n273/abs/011228a0.html
Lost Cities of Ancient Lemuria & the Pacific By David Hatcher Childress


free counters
Related Posts with Thumbnails